Proses Produksi Electro Chlorination Plant

Air laut dipasok ke inlet Electrochlorination Plant melalui pompa Booster. Setelah memastikan aliran yang konstan melewati Hypochlorite Generator Cells. Diberikan arus DC dari Power Supply untuk
terjadi proses elektrolisa. Menggunakan tegangan konstan dengan arus yang dapat diatur. Range kontrol prosesnya mempunyai range 10% sampai 100% dari desain output penuh.

Gas Hydrogen (hasil samping) bersama hypochlorite (hasil yang dikehendaki) keluar dari Generator Cells, masuk ke Storage Tank, dimana gas Hydrogen kemudian di venting (keluar) ke atmosfir. Dalam operasi normal (continuous dosing), hasil produksi hypochlorite dipertahankan  pada level konstan didalam tangki. Laju produk NaOCL diatur  dengan mengatur arus DC yang masuk kedalam Generator Cells.

Jumlah NaOCl yang dihasilkan oleh sistem  adalah produk konsentrasi Chlorine dalam ppm dikalikan dengan jumlah air laut  (m3/h). Produk ini dikenal sebagai Production Rate.



Dari rumus diatas terlihat varisasi dari production rate dengan memvariasikan chlorine concentration. 

Untuk memberikan laju aliran yang diperlukan ke sistem pendingin, keluaran NaOCL dari  outlet tangki penyimpan didorong oleh pompa injeksi. Untuk mencegah endapan yang terjadi di tanki storage, jalur sirkulasi  ditambahkan dari  output pompa kembali ke bawah tangki. Fungsinya menjamin endapan hypochlorite yang dihasilkan dalam proses elektrolisa tetap dalam bentuk larutan.
Sistem  dengan desain Continuous Dosing memberikan dosis hypochloride dengan konsentrasi 1.75 ppm kedalam jalur pendingin. Sistem dengan desain Shock Dosing memberikan konsentrasi 3,5 ppm ke jalur pendingin.
Contoh keperluan produk hypochlorite sebagai berikut :

Jika konsentrasi hypochlorite = 1.75 ppm 
Dan untuk dua kanal intake (pendinggin) = 2 x 30,5000 m3/h = 61,000 m3/h.
maka diperoleh 109.53 kg/h dengan menggunakan rumus diatas.

Jika sistem mempunyai production rate maksimum 120 kg/h, kita dapat mengatur production rate dalam persentase aliran yang dapat diatur rangenya antara 10% ~ 100%. Sistem didesain untuk berjalan kontinyu, dan operator diperlukan untuk mamastikan sistem berjalan normal.

Sistem yang sudah berjalan memproduksi chlorine, masih harus dipastikan efektitas chlorine dalam mencegah foulant di jalur pendingin. Hal ini dipengaruhi oleh pH, temperature, sinar matahar,   lama kontak reaksi,  jumlah kontaminan organik dan non organik, serta konsentrasi chlorine.

Selamat berkarya..

No comments:

Post a Comment