Sistem Kerja Chlorination Plant

Seperti pada tayangan sebelumnya bahwa Elektrolisa yang terjadi di chlorin Plant merupakan proses penguraian komposisi air laut untuk menghasilkan Sodium Hypochlorite, dengan menganut hukum Faraday. Dengan kapasitas yang lebih besar kita akan bahas
produksi klorin secara kontinu untuk keperluan menghasilkan klorin yang digunakan melindungi sistem pendingin utama dari mikro  dan makro organisme.



Dalam suatu power plant, sistem klorinasi menjadi plant tersendiri untuk menghasilkan klorin yang kemudian diinjeksikan sistem pendingin.

Sistem Klorinasi

Sistem terdiri dari bagian-bagian utama:
  1. Booster Pumps 
  2. Auto Backwash Strainers
  3. Hypochlorite Generators 
  4. Transformer / Rectifier
  5. Storage Tank
  6. Injection Pumps

Untuk perangkat instrumen tiap equipment mengikuti, seperti, valve, flow transmiter, pressure gauge dan lain lain.

Sistem kerja klorinasi kapasitas 100 m3/jam

Air laut  masuk melalui valve manual. berasal dari aliran utama untuk sistem pendingan (CWP). Air laut masuk ke booster pump selanjutnya dikirim ke Strainer, yang mana mempunyai  penyaringan 800 mikron melalui katup searah (check valve), katup diaphragm dan butterfly.  Differential Pressure Switch dipasang pada sisi masuk dan keluar filter  dan akan membunyikan alarm jika beda tekanan tinggi (high contact) dan melaksanakan backwashing untuk pembersihan strainer secara mandiri. Jika perbedaan tekanan bertambah besar terus, setting kontak kedua dicapai (High-high contact), maka sistem akan shutdown. Dengan terbukanya katup masuk Generator, air laut dengan aliran 77 m3/h masuk Electrolyser (NaOCl Generator).

Electrolyser terdiri dari 14 module dalam susunan  4 seksi group. Dua dari seksi tersebut mengandung 4 module dan dua seksi yang lain terdiri dari 3 module.Tiap sel mengandung Titanium Cathode Tube dan Mixed metal Oxide Coated Titanium Anode Tube. Cell-cell dibuat /dibentuk dari Inner dan Outer Bipolar Tube dan diatur sedemikian rupa sehingga polaritasnya ganti berganti antara cell yang berdekatan. Cell-cell dari Electrolyser ini secara hidrolik dihubungkan secara seri/deret dengan laluan air laut yang melewati celah berbentuk lingkaran (annular gap) dan beraksi sebagai elektrolit.  

Inlet Manifold  untuk setiap seksi mendistribusikan aliran kesetiap module  dan backpressure yang diciptakan akan mengatur dan menyamakan aliran untuk setiap individu modul  5.0 m3/h. Flow Indicating Switch pada sisi masuk tiap module digunakan untuk memonitor aliran dan akan mengirimkan sinyal trip ke SCP (System Control Panel) seandainya aliran ke module turun  dibawah 4.5 m3/h.

Transformer / Rectifier memberikan output berupa variasi arus DC  sampai 6262 Ampere pada tegangan 110V DC.  20 Cell dari setiap module  secara listrik disusun dalam dua jalan parallel, masing-2nya 10 cell yang mengakibatkan setiap cell dipasok dengan arus 233 Ampere pada tegangan masing-masing 11 volt per cell.

Tiap Module dikoneksi dengan T/R Unit lewat busbar, kabel dan sikring. Kabel Negatif dihubungkan ke Cell 1 dan 20. Kabel Positif dikoneksi ke Cell 10 dan 11. Sebagai akibat reaksi larutan elektrolit, terbentuklah Sodium hypochlorite dan Hydrogen. Larutan hypochlorite dan Hydrogen dilewatkan kedalam Storage Tank  melalui katup butterfly. Larutan ini ditahan didalam tank  untuk periode waktu 5 menit, membolehkan hydrogen dalam larutan dikeluarkan lewat venting (puncak tangki).

Hydrogen Gas Detectors dipasang dilokal dekat didepan Generator  bersama Detector Head yang ditempatkan diatas Generator. Detector memonitor atmosfir dan memberikan alarm jika level hydrogen diatas 25% dari LEL  (Low Explosion Level).  Seandainya level hydrogen bertambah diatas 50% dari LEL, paket akan di-shutdown secara terkontrol.

Storage Tank Level Transmitter dipasang pada Interface tangki berhubungan dengan SCP (System Control Panel) melalui sinyal 4~20 mA. Sinyal digunakn untuk memberikan sistem alarm / trip untuk level tinggi (high) dan lebih tinggi (high-high) lagi.  Sinyal juga digunakan untuk mengendalikan level tangki  melalui kontrol PID  (Proportional-Integral, derivative) melalui PLC (Programmable Logic Controller).

Injection Pump – C mendorong hypochlorite dengan tekanan keluaran konstan 3.5 barg. Flow Control Valve FCV-216 mengatur besarnya aliran untuk mempertahankan level dalam tangki konstan.  Ini diperoleh dengan menggunakan controller PID yang diprogram dalam PLC pada System Control Panel.

Ada masukan, silakan di komen... salam! 





No comments:

Post a Comment