Cooling Tower, media Pendingin


Cooling water adalah salah satu media pendingin yang sangat penting dalam operasional sebuah pabrik. Compressor, chiller, heat exchanger dan barometric condenser adalah sebagian dari alat yang menggunakan media pendingin cooling water dalam operasinya.

Pengendalian kualitas cooling water akan berpengaruh langsung terhadap kinerja dari alat-alat yang menggunakannya, termasuk pipa distribusi yang mengalirkan cooling water dari cooling tower ke pengguna.


Masalah-masalah seperti lifetime alat yang pendek karena korosi, efisiensi pertukaran panas yang rendah akibat akumulasi produk korosi, kerak atau slime (Lumpur), dan naikknya konsumsi energi listrik untuk memompakan cooling water karena adanya penyumbatan pada perpipaan dan alat adalah sebagai akibat dari rendahnya kualitas cooling water.

Parameter-Parameter Dalam Analisa Cooling Water

Untuk mengetahui kualitas cooling water, maka parameter-parameter di dalamnya harus ditinjau secara periodik melalui analisa laboratorium. Dengan mengetahui nilai dari parameter-parameter tersebut, maka pengendalian kualitas cooling water dapat dilakukan dengan baik.

Berikut ini adalah parameter-parameter dalam analisa cooling water treatment yang harus dipantau secara periodik:

Turbidity: menunjukkan jumlah padatan tersuspensi di dalam air.

pH: parameter yang menunjukkan kecenderungan terjadinya korosi dan pembentukan kerak.

Electrical conductivity: menunjukkan jumlah padatan terlarut di dalam air.

M-alkalinity: dianalisa untuk memprediksi pertumbuhan kerak kalsium karbonat. M-alkalinity memiliki korelasi yang positif dengan pH.

Calcium hardness: merupakan parameter penting dalam memperkirakan pertumbuhan kerak dari kalsium karbonat dan biasa digunakan untuk menghitung cycle number dari cooling water.

Magnesium hardness: dianalisa untuk memperkirakan pertumbuhan kerak yang timbul dari ion magnesium yang membentuk magnesium silikat.

Chloride: parameter yang biasa digunakan sebagai indeks untuk mengendalikan cycle number cooling water. Cooling water dengan konsentrasi chloride yang tinggi cenderung lebih bersifat korosif.

Sulfate: Cooling water dengan konsentrasi sulfate yang tinggi cenderung lebih bersifat korosif.

Silica: merupakan salah satu komponen pembentuk kerak pada peralatan.

COD: atau chemical oxygen demand. Konsentrasi COD yang tinggi mempercepat pembentukan slime.

Ammonium ion, nitrate ion dan nitrite ion: konsentrasi ammonium ion yang tinggi mempercepat pembentukan slime. Ammonium ion mempercepat proses terjadinya korosi pada tembaga dengan membentuk senyawa kompleks garam tembaga-ammonium. Ketika amonia berubah menjadi asam nitrat oleh bakteri nitrifikasi, pH cooling water menjadi rendah dan mengakibatkan bahan kimia penghambat korosi (corrosion inhibitor) menjadi tidak berfungsi.

Total Iron: merupakan salah satu fouling material dalam cooling water. Menempelnya senyawa besi (iron) pada permukaan tubing heat exchanger dapat menyebabkan korosi local (corrosion nder deposit) pada material jenis carbon steel.

Residual chlorine: konsentrasi minimu chlorine harus dipertahankan dalam cooling water untuk menciptakan efek anti bakteri atau biocidal effect.

Corrosion inhibitor: konsentrasi tertentu corrosion inhibitor or bahan kimia penghambat korosi harus dipertahankan dalam cooling water untuk menjaga efek anti korosi. Salah satu contoh corrosion inhibitor adalah phosphate, yang biasanya diukur sebagai total phosphate.

sumber: industrikimia.com

3 comments:

  1. Terima kasih banyak Pak Heru atas penjelasannya sehingga menambah wawasan saya dalam bidang cooling tower, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, saya adalah karyawan sebuah perusahaan PMA yg bergerak dibidang chemical cleaning dan saat ini perusahaan kami juga melebarkan sayap untuk menangani maintenance service Cooling Tower dan chiller di gedung-gedung.

    Saya adalah karyawan biasa yang tidak mempunyai basic dari kimia tetapi secara kebetulan saya menyukai pekerjaan dibidang ini. masalah yang saya hadapi saat ini adalah kondisi Cooling Tower (CT) yg kami tangani sangat cepat ditumbuhi lumut dan chiller juga selalu cepat naik temperatur APP nya, padahal kami sudah menggunakan anti scale dan anti lumut yang selalu diberikan per 2 hari sekali tetapi lumut dan scale itu tetap saja cepat tumbuh. dan berikut juga saya lampirkan parameter analisa air yang saat ini kami gunakan ;
    1.pH----dgn limit 8-9
    2. E/Conductivity--- dgn limit 1400
    3. Temperatur --- dgn limit 35
    4. Total Hardness--- dgn limit 400
    5. Total iron,---- dgn limit 3
    6. Cycle Concentration Ratio---dgn limit 5

    Parameter ini dibuat oleh marketing kami yang saat ini sudah resign dan tanpa ada penjelasan mengenai acuannya.

    Untuk itu saya ingin bertanya pak

    1. Apakah dengan parameter itu sudah mewakili untuk proses treatment Cooling Tower dan Chiller ?

    2. Apakah dengan parameter itu salah satu penyebab cepat terjadinya lumut pada Ct dan scale pada chiller ( Tube Kondenser )?

    sebagai informasi chemical untuk anti lumut kami gunakan Chlorin dan untuk anti scale kami gunakan Sulfamic Acid, dan ini rekomendasi dari marketing kami tsb.
    Demikian pak dari saya, saya harap Bapak dapat membalas dan menjelaskannya.
    Atas perhatiannya saya ucapkan Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon maaf pak Syahrul saya mau urun rembuk. Untuk pencegah lumut ( microorganisme control ), banyak biocide yang bisa digunakan baik oxidizing biocide maupun non oxidizing biocide. Chlorin yang Bapak gunakan Hypo ( kaporit cair ) atau Chlorin dioxide ? Kalau Hypo atau kaporit dalam larutan dengan pH diatas 8, tidak efektif mencegah lumut, kecuali disemprotkan secara manual langsung ke lumut pada saat cooling tower off. Sebaiknya Bapak menggunakan non oxidizing biocide yang bisa efektif di berbagai rentang pH.

      Sebaiknya bapak lebih berhati hati menggunakan anti kerak. Bapak harus tahu secara teori kenapa harus menggunakan senyawa itu, apa efek negative nya, bagaimana cara mengontrolnya. karena ini melibatkan investasi peralatan costumer.

      Sebetunya Bapak bisa menggunakan senyawa phosfat dengan catatan harus benar benar dikontrol. Atau bapak bisa menggunakan Organik polymer contoh senyawa poly acrylat, yang lebih bagus lagi kalau digabungkan dengan polymer lain, dilengkapi dengan dispersant dan lain lain sehingga dicapai hasil yang maksimal. Kenaikan temperatur chiller banyak penyebabnya, bisa karena kerusakan compressor, volume freon atau pengaruh kerak di heat exchanger.

      Bapak juga harus tahu parameter apa saja yang betul betul harus ditest, supaya kita bisa memprediksi kecenderungan kerak atau karat pada air cooling tower.

      Untuk bahan bahan kimia perawatan kami siap membantu.
      Bapak bisa kunjungi icsuplindo.indonetwork.co.id

      Ece Suratman 087881747019

      Perawatan cooling tower itu harus berupa sistem yang terpadu.

      Delete